HUBUNGAN INTELLECTUAL CAPITAL DAN BUSINESS PERFORMANCE DENGAN DIAMOND SPECIFICATION : SEBUAH PERSPEKTIF AKUNTANSI




  • PARTIWI DWI ASTUTI
    KAP Ngurah Arya & Rekan Denpasar

    ARIFIN SABENI
    Universitas Diponegoro Semarang

    ABSTRACT

    This research aims at examining relationship between intellectual capital and business performance by examining relationship between human capital and customer capital, human capital and structural capital, customer capital and business performance, and relationship between structural capital and business performance. Because inconsistence results in previous research, hence needed research again by used different model with previous research. Intellectual capital model used this research is diamond specification.

    Data used for this research was collected from financial managers that completing and returning the questionnaire. Data collected by mail survey and contact person. 500 questionnaires were sent to financial managers in companies at Central Java Province listed in Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) of Central Java Province. The questionnaire that useful for analysis were 162 (32,4%). Analysis conducted by SEM multivariate technique with AMOS 4.01 and SPSS 10.0 softwares.

    The result shows that human capital positively and significantly linked with customer capital; human capital positively and significantly linked with structural capital; customer capital positively but not significantly linked with business performance; and structural capital positively and significantly linked with business performance.

    Keywords : intellectual capital, diamond specification, human capital, customer capital, structural capital, and business performance.

    LATAR BELAKANG PENELITIAN

    Kenaikan nilai kapitalisasi saham yang cukup tinggi dan adanya selisih antara nilai buku dengan nilai kapitalisasi saham pada knowledge based industries menunjukkan terjadinya “missing value” pada laporan keuangan yang oleh Stewart (1997) kemudian disebut sebagai intellectual capital. Stewart (1997) menunjukkan perbandingan nilai buku dengan nilai pasar saham yang terdapat di neraca pada perusahaan berbasis pengetahuan adalah 1 : 7, sedangkan pada perusahaan jasa 1 : 1. Menurut Stewart (1997) terjadinya selisih tersebut karena terdapat intangible asset yang tidak dicatat dalam neraca oleh perusahaan.

    Ketidakmampuan perusahaan untuk mencatat intangible asset tersebut dalam neraca dikarenakan standar akuntansi yang ada saat ini belum mampu menangkap dan melaporkan investasi yang dikeluarkan untuk memperoleh sumber daya non fisik. Investasi sumber daya non fisik yang dapat ditangkap dan dilaporkan menurut standar akuntansi saat ini baru sebatas investasi dalam bentuk intellectual property. Dengan demikian, akuntansi juga diyakini belum mampu malakukan pengakuan dan pengukuran terhadap intellectual capital, karena akuntansi cenderung hanya berfokus pada aktiva yang sifatnya nyata (hard assets) saja. Kalaupun ada intangible asset yang diakui dan diukur dalam laporan keuangan, kebanyakan masih didasarkan pada nilai historis (historical cost) bukan potensinya dalam menambah nilai (Stewart, 1997).

    Selengkapnya bisa didownload
    (klik link di bawah ini)
    Link: www.ziddu.com

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.