INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KINERJA KEUANGAN: APLIKASI DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) PADA PERUSAHAAN YANG SUKSES MELAKUKAN INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI




  •  

    Ronny Prabowo

    Universitas Kristen Satya Wacana

    Yayuk Ariyani

    Universitas Kristen Satya Wacana

     

    ABSTRACT

    This research aims to test whether firms that successfully invest in information technology (IT) financially outperform their counterparts (control group). Successful firms are firms that are awarded by two business magazines (Swa and Warta Ekonomi). Instead of only using test of mean difference, we also rely on Data Envelopment Analysis (DEA), a mathematical approach to analyze the relative efficiency of individual economic entities compared to other entities. We use CMOM (Computer Model for Operation Management) for data analysis. Result shows that more numbers of successful firms reach the absolute value of efficiency (100%) compared to the control firms.

    Keywords: IT investments, Data Envelopment Analysis (DEA), financial performance

     

    LATAR BELAKANG PENELITIAN

    Kontribusi teknologi informasi (TI) dalam menciptakan nilai tambah bagi perusahaan merupakan salah satu isu kontroversial dalam bidang economics of information technology. Mengutip data dari berbagai sumber, Santoso (2004) menunjukkan bahwa prosentase kegagalan investasi TI di AS dan Eropa cukup tinggi. Dengan menganalisis artikel penelitian yang memakai data level perusahaan, industri, dan

    ekonomi nasional, Brynjolfsson (1993) tidak menemukan kenaikan signifikan pada produktivitas ekonomi AS walaupun terjadi investasi TI yang sangat besar. Temuan Poston dan Grabski (2001) dan Hitt dan Brynjolfsson (1996) juga tidak menemukan pengaruh positif investasi TI terhadap profitabilitas perusahaan.

    Walaupun banyak juga penelitian yang mendukung hipotesis bahwa TI berpengaruh terhadap kinerja perusahaan (Brynjolfsson dan Hitt, 1996; Bharadwaj, Bharadwaj, dan Konsynski, 1999; Dehring dan Stratopoulos, 2002; Davis, Dehning dan Stratopoulos, 2003), bukti empiris yang saling bertentangan telah membingungkan peneliti dalam menganalisis kontribusi TI. Carr (2003) bahkan secara ekstrem menyatakan bahwa TI telah menjadi ‘keharusan strategis’ atau komoditas belaka, dan tidak lagi menjadi sumber keunggulan bersaing. Investasi TI sangat mahal pada awalnya, tetapi mudah dan cepat ditiru oleh kompetitor dengan biaya yang jauh lebih rendah. Selain itu seringkali investasi TI tidak mendukung strategi perusahaan yang berakibat gagalnya investasi TI menciptakan nilai bagi perusahaan.

     

    ………………………………………………………………………………………..

    ………………………………………………………………………………………..

     

    KESIMPULAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN

    Awarded firms secara umum memiliki kinerja keuangan lebih baik daripada control firms, tetapi tidak signifikan (dengan Wilcoxon Signed Rank Test). Meskipun begitu, untuk bottom line items (items yang terkait dengan net profit) control firms memiliki kinerja yang lebih baik. Hasil ini bertentangan dengan temuan Dehning dan Stratopoulos (2002) dan Davis, Dehning dan Stratopoulos (2003) yang menyatakan bahwa perusahaan yang termuat di majalah Computerworld di AS (awarded firms) justru memiliki kinerja yang lebih baik, terutama yang terkait dengan bottom line items (items yang terkait dengan net profit).

    Dengan analisis DEA, terlihat pula bahwa awarded firms memiliki kinerja yang lebih baik daripada control firms. Hal ini terlihat bahwa ada enam successful firms yang memperoleh angka efisiensi mutlak (100%) sedang control firms hanya lima. Selain itu, awarded firms yang tidak memperoleh angka efisiensi mutlak memiliki rata-rata angka efisiensi yang lebih tinggi daripada perusahaan sejenis pada kelompok control firms. Meskipun demikian, kinerja awarded firms tidak terpaut banyak dengan kinerja control firms.

    Hasil analisis Wilcoxon Signed Rank Test dan DEA yang tidak konklusif ini memberikan konfirmasi empiris bahwa majalah SWASembada dan Warta Ekonomi (majalah yang memberikan IT award) tidak memperhitungkan kinerja keuangan sebagai indikatornya (majalah SWA) ataupun memberikan bobot yang kecil (untuk Warta Ekonomi). Kedua majalah tersebut lebih banyak memakai indikator kualitatif untuk kriteria penilaiannya. Berbeda dengan kedua majalah tersebut, Computerworld di AS sangat mengandalkan kriteria keuangan (lima dari sembilan kriteria). Hal itu bisa menjadi penjelasan mengapa Dehning dan Stratopoulos (2002) dan Davis, Dehning dan Stratopoulos (2003) menemukan bahwa perusahaan yang mendapat IT award dari Computerworld memiliki kinerja keuangan yang lebih baik daripada control firms. Perusahaan yang tidak efisien (baik untuk kelompok successful firms maupun

    control firms) dapa meningkatkan efisiensi relatifnya dengan mengurangi inputnya sebesar selisih antara angka efisiensi mutlak (100%) dengan angka efisiensi mereka atau dengan penyesuaian input dan output dengan benchmark perusahaan-perusahaan yang dianalisis dengan angka efisiensi mutlak.

    Penelitian ini tidak terlepas dari keterbatasan yang penulis harapkan bisa diperhatikan peneliti lain jika ingin melakukan penelitian sejenis, yaitu:

    1. DEA hanya bisa menganalisis kinerja entitas ekonomi relatif terhadap entitas lain yang dianalisis, tidak kinerja mutlak. Selain itu DEA tidak bisa memberikan informasi apakah perbedaan kinerja antara successful firms dan control firms signifikan.

    2. Asumsi constant return of scale, padahal proses produksi tidak mungkin konstan.

    3. Ketiadaan data mengenai besarnya investasi TI untuk setia
    p perusahaan membuat analisis yang terbatas.


    Click here to download

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.