PENGARUH PENYELARASAN STRATEGIK TERHADAP KINERJA ORGANISASI PADA SEKTOR PERBANKAN DI INDONESIA




  • Simposium Nasiona Akuntansi 9 Padang

    PENGARUH PENYELARASAN STRATEGIK TERHADAP KINERJA ORGANISASI PADA SEKTOR PERBANKAN DI INDONESIA

    *Nofie Iman VK1

    Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

    Jogiyanto HM2

    Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

    Abstract:

    Strategic alignment has had the attention of researcher and practitioners for some 15 years. This paper reports a survey of strategic alignment impacts on organizational performance in Indonesian banking industry. The survey was conducted through internet-based and postal questionnaire sent to the selected companies.

    Structural Equational Modeling (SEM) was used to apprehend the strategic alignment concept as an emergent variable derived from the co-variation of (1) level of business strategy; and (2) level of IS/IT strategy. Thus, we explore the role of this emergent concept as a determinant of organizational performance. Analysis of the data reveals a generally positive impact towards the organizational performance.

    Keywords: strategic alignment, organizational performance, banking

    Classification code: L20, G21, M10

    * Tulisan ini diangkat dari Skripsi S1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

    1 Sistem Informasi Fakultas Ekonomi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

    Jl. Humaniora 1 Yogyakarta 55281. T: 0274 548510-14 Ext 273 F: 0274-382170 E: info@nofieiman.com

    2 Magister Sains dan Doktor Ilmu Ekonomi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

    Jl. Nusantara Bulaksumur Yogyakarta 55281. T: 0274-580726, 524607-524609 F: 0274-524606

    Simposium Nasiona Akuntansi 9 Padang


    1. Pendahuluan

    1.1 Latar Belakang

    Perbankan adalah lembaga yang berperan sebagai financial intermediary. Lembaga keuangan tersebut kini telah mengalami tiga tahap evolusi dari waktu ke waktu (Rybczynski, 1997). Fase pertama disebut sebagai fase bank oriented, dimana pembiayaan eksternal kebanyakan diperoleh melalui pinjaman dari perbankan yang dibiayai dari tabungan para nasabah. Fase kedua disebut sebagai fase market oriented, dimana investor institusi maupun rumah tangga mulai memegang surat berharga dan institusi keuangan non-bank mulai menawarkan jasa menyerupai jasa-jasa yang ditawarkan perbankan. Sementara pada fase ketiga, fungsi tradisional perbankan mengalami ekstensifikasi meliputi perdagangan (trading), penjaminan (underwriting), jasa konsultansi (advising), maupun manajemen aset (asset management). Pada fase ini, pinjaman dari perbankan mulai digantikan oleh penerbitan obligasi (corporate bonds), surat utang (commercial paper), hipotek (mortgage), maupun bentuk kredit lain yang tidak lagi ditawarkan oleh perbankan.

    Mullineux dan Murinde (2003) menambahkan bahwa pada milenium baru ini perbankan secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan di sektor perbankan itu sendiri –termasuk Second EC Banking Directive pada tahun 1987, Basle Concordat di tahun 1988, Japanese Big Bang di tahun 1998, dan Glass-Steagall Act di Amerika pada tahun 1999—juga harmonisasi regulasi global, liberalisasi sektor keuangan dan permodalan, serta revolusi teknologi komputasi dan sistem informasi. Karenanya, kontribusi perbankan dalam perekonomian akan semakin berkurang, mengingat peran bank sebagai intermediari dan pemegang fungsi likuiditas mulai digantikan oleh munculnya instrumen keuangan baru dan teknologi yang lebih baik.

     Download selengkapnya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.