PENGARUH PREFERENSI KLIEN DAN PENGALAMAN AUDIT TERHADAP PERTIMBANGAN AUDITOR




  • TRI RAMARAYA KOROY1
    Kopertis Wilayah XI Kalimantan

    ABSTRACT

    The objective of this study is to examine how auditors respond in their audit judgment to the client position or preferences. It hypothesized that auditor respond in different ways based on their audit experience. Inexperienced auditors tend to be conservative and more likely to propose audit adjustment than experienced auditors. Experimental study was conducted to 64 auditors from Big 4 and non Big 4 accounting firm. Audit cases used in this study involve an acquisition case to a target division that has the inventory obsolescence problems. Participants asked to make audit judgments i.e. to propose audit adjustment in inventory write-down. Results show that the hypotheses supported and audit experienced play important role in information processing and audit judgment resulted. On average, the client positions have no effect on auditor judgments.

    Key Words: Auditing, Auditor Independence, Audit Experience, Client Preference.

    I. PENDAHULUAN

    Terjadinya kasus kegagalan audit berskala besar di Amerika Serikat belakangan ini, seperti kasus Enron, telah menimbulkan kembali skeptisisme masyarakat mengenai ketidakmampuan profesi akuntansi dalam menjaga independensi. Sorotan tajam diarahkan pada perilaku auditor dalam berhadapan dengan klien yang dipersepsikan gagal menjalankan perannya sebagai auditor independen. Auditor sejak dua dekade belakangan ini dipandang justru bertindak melayani atau menjadi bersikap secara advokasi bagi klien (Schuetze, 1994).

    Perspektif dari sudut psikologi mengenai independensi auditor ini mengemukakan bahwa upaya mencapai independensi adalah mustahil dan pendekatanpendekatan profesi auditing yang ada sekarang ini adalah naif dan tidak realistis (Bazerman et al., 1997, 2001, 2002). Kerangka audit yang ada mengimplikasikan tujuan independensi adalah mencoba menghilangkan bias oleh auditor sehingga dapat mencapai obyektivitas, padahal auditor menurut mereka, berdasarkan posisi pekerjaan dalam hubungannya dengan klien tidak mungkin luput dari bias yang tidak disadari (unconscious bias). Menurut Bazerman et al., oleh sebab seringkali akuntansi bersifat subyektif dan ada hubungan yang erat antara KAP dan kliennya, auditor yang paling jujur dan cermat sekalipun akan secara tidak sengaja mendistorsi angka-angka sehingga dapat menutupi keadaan keuangan yang sebenarnya dari suatu perusahaan. Hal ini akan menyesatkan investor, regulator, dan kadang manajemen sendiri.

    Bazerman et al. mendasarkan argumen ini pada bukti-bukti penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa keinginan kita dengan kuat mempengaruhi cara kita menginterpretasikan informasi, sekalipun bila kita mencoba untuk bersikap obyektif dan tidak memihak (impartial). Ditunjukkan juga adanya self-serving bias, yaitu meski diperlengkapi dengan informasi yang sama, orang yang berbeda akan mencapai kesimpulan berbeda pula yakni kesimpulan yang mendukung kepentingannya sendiri. Bias yang tidak disadari ini tidak dapat dikurangi dengan strategi apapun. Bias ini bekerja dengan mendistorsi bagaimana orang menginterpretasikan informasi.

    Download Link
    (copy lalu paste link ini di browser anda)
    #download/7000364/PENGARUHPREFERENSIKLIENDANPENGALAMANAUDIT.pdf.html

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.