PROBLEM-BASED LEARNING (PBL)





  •  

    [PENGARUH PROBLEM-BASED LEARNING (PBL)

    PADA PENGETAHUAN TENTANG KEKELIRUAN DAN KECURANGAN (ERRORS AND IRREGULARITIES)*]


     

    Riki Ferdian

    Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada†

    rikiferdian@gmail.com

    Ainun Na’im

    Universitas Gadjah Mada‡

    ainunn@ugm.ac.id


     

    Abstract


     

    This study examines the effects of Problem-Based-Learning (PBL) approach in auditing course teaching on the students’ knowledge about errors and irregularities. PBL is an approach in teaching that focuses on identification, analysis, and intergroup discussion of problems. In PBL auditing course teaching, instead of focusing on lecturing, professors stimulate students to identify, to discuss and to analyze problems in auditing. We predict that PBL is more effective than traditional teaching approach in auditing course that focuses on lecturing. Of course other (out of class) activities such as exercises and case analysis still be used and parts of the whole learning process.

    Using an experiment involving subjects of 57 students, we find that the difference between PBL and Conventional approach is not significant. There are two reasons for this unexpected finding. First, we may fail to have a group of subjects who have PBL approach and the other group of subjects who have Conventional approach. Second, the instruments may not be able to provide durable measures to differentiate the knowledge of the subjects in errors and irregularities. Thus, this research may be extended by improving those weaknesses. This research provides contribution on the development of the theories and approaches in teaching and in auditing.

    Keywords: Problem-Based Learning (PBL) method, recall of errors and irregularities, accuracy of errors and irregularities.


     


     

    5.1. Kesimpulan


     

    Penelitian ini terutama dimaksudkan untuk menguji ulang hasil penelitian Tubbs (1992) yang direplikasi oleh Sularso (1998) dengan berfokus pada subjek auditor belum berpengalaman (mahasiswa). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah dimasukkannya variabel metoda problem-based learning (PBL) sebagai treatment pada salah satu kelas Pengauditan 2 Program Reguler Semester Genap Tahun Ajaran 2004/2005. Metoda PBL terutama mereplikasi penelitian Durtschi (2003) dan Breton (1998). Data untuk keperluan replikasi ketiga penelitian ini dikumpulkan dengan memakai instrumen penyebutan secara bebas (unconstrained free recall) yang telah digunakan Tubbs dan Sularso. Sebanyak 57 responden mahasiswa dari dua kelas Pengauditan 2 dengan 20 responden mahasiswa pria dan 37 responden mahasiswa wanita ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Dengan mendasarkan pada hasil analisis data, beberapa kesimpulan bisa diambil, yaitu:

    1. Tidak terdapat perbedaan antara experimental group dan control group mengenai jenis kekeliruan dan kecurangan yang dimiliki. Hal ini diluar ekspektasi yang menyatakan sebaliknya. Hasil tersebut juga tidak sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya tentang metoda PBL. Peneliti menduga hal ini dikarenakan tidak spesifiknya metoda PBL digunakan untuk mengevaluasi jenis kekeliruan dan kecurangan yang bisa terjadi. Dalam pengaplikasian metoda ini, mahasiswa mengevaluasi sistem pengendalian internal (SPI) secara umum yang salah satunya berusaha mengidentifikasi kekeliruan dan kecurangan yang bisa terjadi. Sementara penelitian Durtschi (2003) secara spesifik mengidentifikasi kecurangan yang terjadi.

    2. Tidak terdapat perbedaan antara experimental group dan control group mengenai ketelitian terhadap kekeliruan dan kecurangan yang dimiliki. Hasil ini berlawanan juga berlawanan dengan harapan peneliti Peneliti menduga hal ini hampir sama dengan alasan yang dikemukan Heiman (1990), Libby dan Frederick (1990) dalam Tuttle (1996:104) bahwa auditor telah memperlihatkan kegunaan knowledge base rate untuk menggeneralisasi perkiraan dari ingatan dan mengevaluasi jawaban pemeriksaan. Jawaban pemeriksaan benar dan dirasa diambil dari frekuensi keterjadian adalah taken from granted. Hal ini semakin didukung oleh karakteristik responden. Kalau dilihat dari umur, tingkat pendidikan dan pengetahuan, mahasiswa yang di uji mempunyai taraf yang sama. Jadi wajar saja mereka tidak mempunyai perbedaan dalam ketelitian


     

    (Postingan ini hanya memuat Abstrak dan Kesimpulan, selengkapnya silahkan klik download)


    Click here to download

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.