TIGA ANGKA LABA AKUNTANSI: MANA YANG LEBIH BERMAKNA BAGI INVESTOR?





  • RAHMAT FEBRIANTO
    Universitas Andalas
    ERNA WIDIASTUTY

    Alumni Universitas Gajah Mada

    ABSTRAK

    When a researcher wants to test the relationship between accounting income number and share price, he/she (naturally) will use operating income or net income numbers. The earlier is chosen because this number is operative, can be “traced” to income, while the later is chosen because its close relationship with investor-since it will be paid as dividend.

    This research tries to prove whether these two income numbers have better quality, compared to the third income number: gross profit. The results show that gross profit number has the best quality and statistically significant in all windows used.

    Keywords: market reaction, earnings response coefficient, gross profit, operating profit, net profit.

    Latar Belakang Masalah

    Riset akuntansi keuangan, terutama yang mencari hubungan angka laba dengan harga saham selalu menggunakan angka laba operasi atau EPS-yang dihitung menggunakan angka laba bersih dan tidak pernah angka laba kotor. Sebenarnya, di satu sisi, PSAK No. 1 (IAI, 2002) menyatakan, secara implisit, bahwa laporan laba rugi harus memuat informasi laba kotor, laba operasi, dan laba bersih. Semangat yang ada di dalam perincian masing-masing angka laba tersebut sebenarnya untuk tujuan pengukuran efisiensi manajer dalam mengelola perusahaan.

    Laba kotor adalah selisih dari pendapatan perusahaan dikurangi dengan kos barang terjual. Kos barang terjual adalah semua biaya yang dikorbankan, yang untuk perusahaan pemanufakturan, mulai dari tahap ketika bahan baku masuk ke pabrik, diolah, dan hingga dijual. Semua biaya-biaya langsung yang berhubungan dengan penciptaan produk tersebut dikelompokkan sebagai kos barang terjual. Bagi perusahaan dagang, kos barang terjual ini akan terdiri dari biaya-biaya: harga beli barang dan biaya lain yang dikeluarkan untuk menjadikan barang tersebut siap dijual.

    Angka laba operasi adalah selisih laba kotor dengan biaya-biaya operasi. Biayabiaya operasi adalah biaya-biaya yang berhubungan operasi perusahaan. Per definisi, biaya-biaya ini adalah biaya-biaya yang sering terjadi di dalam perusahaan dan bersifat operatif. Selain itu, biaya-biaya ini diasumsikan memiliki hubungan dengan penciptaan pendapatan. Di antara biaya-biaya operasi tersebut adalah: biaya gaji karyawan administrasi, biaya perjalanan dinas, biaya iklan dan promosi, dan lain-lain.

    Angka laba ketiga adalah laba bersih. Laba bersih berarti adalah angka yang menunjukkan selisih antara seluruh pendapatan yang operatif maupun tidak-dan seluruh biaya-operatif maupun tidak. Dengan demikian, sesungguhnya laba bersih ini adalah laba yang menunjukkan bagian laba yang akan ditahan di dalam perusahaan dan yang akan dibagikan sebagai dividen.

    Selain memiliki makna semantik dan sintaktik seperti di atas, laba juga memiliki makna pragmatik. SFAC No. 1 menyatakan bahwa laba akuntansi adalah alat ukur yang baik untuk mengukur kinerja perusahaan dan bahwa laba akuntansi bisa digunakan untuk meramalkan aliran kas perusahaan (Hendriksen dan Van Breda, 2001: 311).

    Selengkapnya bisa didownload
    (klik link di bawah ini)
    Link: www.ziddu.com

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.