MODEL FRAMING DAN BELIEF ADJUSTMENT DALAM MENJELASKAN BIAS PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENGAUDITAN




I WAYAN SUARTANA

Universitas Udayana

ABSTRACT

This study examined framing and presentation mode effects in auditor substantive testing decisions. Auditor presented with the routine task of judging in the appropriate level of substantive testing based on their evaluation of an internal control systems. Subject were instructed either to evaluate the risk of the related internal control systems. After considering seven specific pieces of information about the internal controls in the inventory systems, they then made a judgment about the internal control systems and revised their substantive testing decision. The premise of the study is that subjects asked to evaluate risk would find negative aspects of the control systems to be salient, where as subjects asked to evaluate strength would find positive aspects of the systems to be more salient. As a result, auditors assesing risk, rather than strength, would plan more substantive testing. This result indicated that framing effects and recency effects could occur among expreienced auditors performing a familiar task with routine consequences.

Jurnal Akuntansi Lainnya:  Corporate Governance - Powered by Google Search

Key Words: Framing, Belief Adjustment Model, Auditing, Inventory

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Dalam rangka mewujudkan akuntabilitas dan transparansi, fungsi audit sangat
esensial. Hasil audit akan memberikan umpan balik bagi semua pihak yang terkait dengan
perusahaan atau organisasi. Untuk itulah proses audit mesti dilakukan secara hati-hati dan
konsisten dengan kaidah-kaidah profesi. Proses audit melalui prosedur yang berjenjang,
dan setiap tahapan akan melibatkan judgmen auditor atas suatu kejadian atau fakta.
Auditor diharapkan memiliki judgmen yang berkualitas.

Menurut Kida (1984) auditor membuat judgmen dalam mengevaluasi
pengendalian intern, menilai risiko audit, merancang dan mengimplementasikan
penyampelan dan menilai serta melaporkan aspek-aspek ketidakpastian. Auditor
secara eksplisit maupun implisit memformulasikan suatu hipotesis terkait dengan
tugas-tugas judgmen mereka. Setelah hipotesis itu dibingkai, kemudian mereka
mencari data untuk menguji hipotesis-hipotesis (dugaan-dugaan) yang
diformulasikan.

Faktor pertama yang diuji adalah framing (Kahneman dan Tversky, 1984; Tversky
dan Kahneman, 1986). Dua frame yang umumnya digunakan untuk melihat karakter
struktur pengendalian intern (SPI) suatu perusahaan adalah “kekuatan” dan “risiko”.
Kekuatan mencerminkan kuat-lemahnya SPI, sedangkan risiko menunjukkan berisiko
tidaknya SPI perusahaan. Karena keputusan auditor mengenai jumlah yang tepat dari uji
substantif adalah suatu fungsi dari evaluasi atas SPI, maka perbedaan antara dua karakter
tersebut diyakini memiliki dampak yang berarti terhadap keefektifan dan efisiensi dalam
audit.

Jurnal Akuntansi Lainnya:  Akuntansi Keuangan 2

==========================================================
Download Link
(copy lalu paste link ini di browser anda)
#download/7000342/ALAMMENJELASKANBIASPENGAMBILANKEPUTUSANPENGAUDITAN.pdf.html
==========================================================

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.